Kutipan Otobiografi Bung Hatta – Untuk Negeriku : Bagian 1 Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi


Buku Otobiografi Bung Hatta bagian 1 : Bukittingi-Rotterdam Lewat Betawi
Buku Otobiografi Bung Hatta bagian 1 : Bukittingi-Rotterdam Lewat Betawi

(Bung Hatta kecil tinggal di pihak keluarga ibunya bersama Pak Gaek dan Mak Gaeknya beserta keluarga besar dari pihak ibunya. Pak Gaeknya menjalankan usaha jasa pengiriman pos/barang menggunakan sejumlah kuda peliharaannya)
“…..Cara Pak Gaekku menjalankan organisasi memberi kesan pula padaku. Sewaktu kecil barangkali tidak terasa, tetapi kemudian ada pengaruhnya. Semua pembantunya sampai kepada pelayan dan tukang kuda diperlakukan sama. “Kita sama-sama manusia,” begitu sering dia berkata kepada anak-cucu. “Kalau tidak karena mereka, tak dapat aku mengerjakan pekerjaan sebanyak itu…..”

(Bung Hatta menceritakan masa kecilnya, kampung halaman ayah kandungnya di Batuhampar dan cerita mengenai ayah kandungnya yang berpulang saat ia masih bayi)
“…..Ayah kandungku bernama Haji Muhammad Djamil, anak Syekh Batuhampar. Ia meninggal dalam usia 30 tahun, waktu aku baru berumur 8 bulan. Kerena itu, aku tak kenal akan dia. Menurut cerita orang, termasuk ibuku sendiri, aku serupa benar dengan ayahku. Ibuku pernah berkata, “Engkau potret hidup dari ayahmu.” Pada waktu kecil ada kepercayaan orang di Minangkabau, kalau ada anak laki-laki serupa bapaknya, salah seorang akan mengalah, cepat-cepat pulang ke alam baka. Entah benar entah tidak, itu Tuhan punya kuasa…..”

(Bung Hatta menceritakan pengalamannya saat kecil mengenai pandangan Ayah Gaeknya, Syekh Arsyad mengenai pemahaman agama)
“…..Allah tidak kekurangan suatu apapun, tidak kurang hormat, tidak kurang kebesaran, tidak ingin disembah dan dipuji. Sembah dan pujian kepada Allah tidak lain maksudnya daripada didikan kepada diri sendiri, supaya menjadi orang yang baik dan cinta kepada yang benar yang ditunjukkan Allah, kepada yang adil dan jujur, serta kasih antar sesama manusia…..”

(Kunjungan Bung Hatta ke Batuhampar, tempat keluarga ayahnya, dengan Ayah Gaeknya Syekh Arsyad)
“…..Sebagai ahli tarekat, ia tahu bahwa otak anak kecil tidak boleh dibebani dengan ajaran agama yang sulit-sulit. Tetapi ia pandai menanamkan  paham agama Islam dalam jiwaku dengan uraian yang mudah-mudah, yang melekat dalam hatiku untuk selama-lamanya. Uraian beliau dalam pertemuan kami yang tidak banyak itu berpokok pada dua-tiga hal yang positif saja. Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa, Tuhan seru sekalian alam. Allah menjadikan segala yang ada di alam dan langit. Allah memberi kita rezeki. Sebab itu, kita harus berterimakasih kepada Allah. Balas kasih Allah kepada kita itu dengan mengasihi orang lain. Bagikan pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepada kita itu kepada orang lain yang tak punya. Dan Allah nanti membalas budi kita itu dengan melimpah-limpah. Dan teori yang diajarkannya itu kulihat dipraktikkannya dengan perbuatan…..”

(Bercerita tentang usaha ayah tirinya yang merugi karena kontrak dagang pada waktu itu dibuat menurut harga lama dan berlaku lima tahun, sedangkan harga barang yang harus diserahkan sudah lebih mahal daripada itu)
“…..Sejak masa itu sudah tertanam dalam keinsafanku ada something wrong dalam politik keuangan negara. Akibatnya kumulatif. Dari perkataan-perkataan yang tertangkap olehku pada waktu itu, aku bertambah yakin tentang kebenaran kata-kata yang sering diucapkan oleh Ayah Gaekku di Batuhampar dan sering pula diulang-ulang oleh Pak Gaekku: “Harta dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanya harta ilmu dan pengetahuan serta ibadat.” Itu memperkuat semangatku belajar dan barangkali menanam rasa tanggung jawab dalam jiwaku, yang waktu itu belum aku insafi benar. masih terpendam di bawah sadar…..”

(Pertemuan Bung Hatta muda dengan H. Agus Salim dirumahnya)
“…..Memang, membaca dan mempelajari ada lain,” kata H. Agus Salim. “Tetapi tidak ada bacaan yang hilang dari kepala sama sekali. banyak juga yang tersangkut pada otak kemudian dapat menjadi dasar pembacaan dan pelajaran terus dalam masalah hidup. banyak membaca, itulah jalan yang baik untuk menambah pengetahuan dan mengasah kecerdasan. Di luar sekolah tidak sedikit pelajaran yang dapat diperoleh jadi pembantu penyambung yang dipelajari di sekolah…..”

(Perjalanan Bung Hatta melanjutkan sekolah ke Belanda dengan kapal dan singgah sebentar di Marseille, Perancis )
“…..Demikianlah, kira-kira lebih dari enam jam kami berkeliling di Marseille dan tengah hari sama-sama makan di sebuah restoran. Tuan Portier heran sekali melihat orang-orang Perancis di mana-mana membaca sambil jalan, atau duduk di trem selalu membaca koran. Aku juga heran, itu pengalaman baru bagiku. Tetapi, kepada keluarga Portier, kukatakan bahwa sifat orang Eropa, mau mempergunakan segala waktu. Tidak ada bagi mereka waktu yang tidak dipakai…..”

(Pergantian pengurus baru Indische Vereeniging)
“…..Untuk dasar bekerja pengurus baru itu dikemukakan sebagai keterangan dasarnya pokok-pokok yang tersebut:
“Masa datang bangsa Indonesia semata-mata dan hanya terletak pada adanya suatu bentuk pemerintah yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti yang sebenarnya karena hanya bentuk pemerintah yang semacam itulah dapat diterima oleh rakyat. Tiap-tiap perpecahan tenaga-tenaga Indonesia, dalam bentuk apapun, ditentang sekeras-kerasnya, karena hanya persatuan tenaga-tenaga putra Indonesia dapat mencapai tujuan bersama itu…..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s