Kelapangan Hati Sebesar-Besarnya Untuk Negeri


Senin 3 Februari 2014 pukul 21.00 WIB aku baru saja menonton satu acara TV swasta yang meliput rangkuman GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia.

 

Aku suka sejarah maka dari itu kewajiban persiapan belajar untuk ujian  UAS Mata Kuliah Manajemen Resiko  besok aku lupakan sejenak, acara ini sepertinya lebih menarik perhatian.

 

Sepanjang durasi acara dengan judul ‘Jalan Pedang’ itu diulas awal mula yang melatarbelakangi munculnya GAM. Jika sebelumnya aku belum terlalu paham kasus tentang GAM saat itu, mungkin aku masih SMP, yang aku ingat dulu ada salah satu wartawan senior TV RCTI yang meninggal saat melakukan peliputan konflik tersebut. Selebihnya alasan lebih jauh mengapa ada GAM, aku tidak mengerti. Yang aku tahu GAM melakukan pemberontakan ke NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan menuntut kemerdekaan.

 

Karena tidak begitu ingat dan mengerti rekam jejak sejarah, jadi ada sedikit bagian-bagian sejarah yang aku belum mengerti dan profil nama tokoh-tokoh yang disebutkan aku belum familiar, seperti disebutkan tokoh Daud Bereuh yang punya andil cukup besar untuk rakyat Aceh dan sangat dihormati. Aku cukup familiar dengan nama Hasan di Tiro karena aku tahu dia Tokoh Pemimpin GAM.

 

GAM berpusat dan berawal di gunung Halimun di daerah dingin Pidie mulai ada sekitar tahun 70an (*aku tidak terlalu ingat tahun detailnya) yang didasari rasa ketidakpuasan rakyat Aceh terhadap pemerintahan pusat. GAM diinisiasi Hasan di Tiro yang juga merupakan masih memiliki silsilah langsung dengan kerajaan Aceh saat itu dan merupakan cucu dari Teuku Cik di Tiro.

 

Gerakan GAM tidak diawali dengan ajakan untuk angkat sejata dan jalur militer, Hasan di Tiro sadar untuk menyadarkan rakyat Aceh maka perlu adanya pengetahuan & kesaradaran politik atas kondisi Aceh maka disebarkan brosur dan selebaran kepada rakyat Aceh pada mulanya. Perkembangan selanjutnya GAM mendapat pelatihan militer di Libya, sementara Hasan di Tiro banyak menghabiskan diri di luar negeri untuk menggalang dukungan politik. Selama periode pemberontakan GAM terjadi beberapa operasi militer yang memakan banyak korban jiwa. Selama itu pula beberapa inisiasi kesepakatan damai dibuat namun tidak banyak menghasilkan hasil yang memuaskan.

 

Dalam salah satu rekaman video yang menayangkan pernyataan salah seorang yang jadi bagian GAM namun aku tidak terlalu paham posisi dan kedudukannya dalam GAM kurang lebih mengatakan bahwa Jakarta merupakan pemerintahan asing bagi Aceh. Ini menyiratkan rasa ketidakpuasan dan miris mendengarnya bahwa ternyata saat itu kondisi persatuan nusantara ini diuji.

 

Secara garis besar dari acara yang aku tonton, akhirnya aku tahu alasan adanya GAM di bumi Aceh, ternyata alasan yang sama juga sampai saat ini dirasakan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya yang masih tidak sepenuhnya tersentuh Pemerintah Pusat baik dari segi infrastruktur, kesejahteraan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan informasi dunia luar selain yang ada daerahnya.

 

Ya, alasan ketimpangan kesejahteraan menjadi salah satu alasannya. Dijelaskan bahwa pada era itu sentralisasi pemerintahan yang berpusat di Jakarta mengakibatkan daerah banyak terabaikan. Disebutkan bahwa Aceh pada saat itu merupakan penyumbang 14% dari total GDP (Gross Domestic Product) nasional dari kekayaan sumber daya alamnya namun hanya mendapatkan jatah alokasi dana 1% APBN.

 

Salah satu dosen pernah bercerita dulu pada masa orde baru saat masih sistem sentralisasi kekuasaan, semua hasil SDA akan berakhir dikelola di pusat, pada saat itu pembangunan dan kegiatan ekonomi terpusat di pulau Jawa dan khususnya ibukota Jakarta. Tidak perduli daerah-daerah penghasil SDA yang turut berkontribusi besar menyokong keuangan negara saat itu, namun pembangunan dan kegiatan ekonomi tetaplah berpusat di pulau Jawa. Sehingga dengan sistem sentralisasi tersebut daerah-daerah yang jauh dari Jakarta luput dari perhatian. Timpang dan miris.

 

Disamping itu, aku tidak terlalu paham runtut sejarahnya, namun yang aku tangkap alasan lain yang memicu GAM makin besar dan mengerilya karena banyak terjadi kekerasan dan operasi militer oleh tentara pada saat itu yang juga mengorbankan rakyat sipil. Untuk latar belakang kekerasan tersebut aku belum terlalu mengerti dan masih jadi PR ku untuk mencari tahu lebih jelas.

 

Gambaran kasar yang aku dapat acara malam itu mengena memoriku, wawasanku sekali lagi diketuk untuk dibuka, dan aku sedikit belajar melihat apa yang jadi bagian sejarah bangsaku. Bahwa gajah itu tidak melulu makhluk dengan belalai, namun gajah juga memiliki apa yang disebut gading, 2 telinga, 4 kaki, 1 ekor, berkulit tebal, dan berbadan besar dan bagian-bagian lainnya yang tidak kita tahu jika tidak melihat potret gajah dari keseluruhan.

citedfrom : www.republika.co.id
citedfrom : http://www.republika.co.id

 

 

Sombong & apatis kiranya jika untuk hal itu saja kita yang disebut-sebut generasi muda Indonesia tidak mau mengetahui dan tidak mengambil hikmah dari sejarah bangsanya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s