Acara Televisi Dalam Dua Mata Pisa


Ini tentang pola tontonanku di televisi yang akhir-akhir ini baru aku sadar ada yang aneh.

Belakangan aku baru tahu cuma ada 2 stasiun televisi yang benar-benar ditonton setiap kali aku hidupkan saluran televisi dan memencet tombol channel yang aku tahu.

Ini bukan karena tidak tahu acara-acara dari stasiun televisi lain, tapi lebih tepatnya karena seperti dibuat tidak ada pilihan lain.

Bila bicara tidak ada pilihan lain ini lebih tepat disebut apa yang banyak ditampilkan tidak pas dengan apa yang diharapkan / lebih mudahnya tidak sesuai dengan selera.

source : nutritionmythbusters.blogspot.com
source : nutritionmythbusters.blogspot.com

 

Acara yang sering aku tonton umumnya seputar acara berita, acara talkshow komunikatif yang muatannya informatif dan sifatnya membuka wawasan baru.

Disamping itu aku juga suka acara variety show yang lebih mengeksplor alam nusantara, kebudayaannya, dan pastinya juga kulinernya.

Aku juga suka acara komedi lepas yang cerdas dalam arti dibalik banyolan para pelawaknya tersebut terlihat usaha (effort) dan pemikiran-pemikiran yang ternyata bila dikemas dengan ringan bisa jadi guyonan yang berisi, contohnya bisa berupa sindiran halus tentang kritikan sosial, dunia sehari-hari, topik berita yang sedang ramai dibicarakan, dsb.

 

Aku juga suka saluran televisi kabel yang muatan acaranya variatif dan banyak pelajaran yang bisa diambil, disamping karena aku juga suka menonton sambil belajar lagi Bahasa Inggris dari teks dan dialog yang diucapkan.

 

Dan yang sekarang bila sebelumnya tidak terlalu memusingkan konten yang ada dari saluran televisi, belakangan saluran-saluran televisi kebanyakan seperti sudah kekurangan inovasi-inovasi baru dalam penyajian konten acaranya.

Sebagian besar dari yang ada cenderung mengikuti arus kebanyakan (mainstream). Akan baik bila mainstream yang diikuti itu positif tapi menjadi tidak baik bila ternyata sebaliknya.

Acara di stasiun televisi saat ini kebanyakan berkonten komedi dan sekalipun itu dikemas dalam bentuk talkshow yang berisi selebriti keseluruhan acaranya tidak lebih dari komedi-komedi improvisasi para artis yang terkadang karena improvisasinya tidak melihat lagi apakah itu perlu dilakukan,

adakah manfaatnya,

apakah enak untuk didengar dan dilihat apalagi ditiru,

apakah ada nilai-nilai yang bisa diteladani,

apakah tidak bisa untuk tidak mencari konten guyonan yang tidak sarkastis dan merendahkan atau sekedar mengejek yang mungkin maksudnya hanya sebatas di panggung,

tapi tidak terpikirkah bila hal yang sama juga menjadi tiruan dan pola tersebut menjadi tren bagi anak-anak yang pasti juga tidak lepas dari menonton acara-acara seperti itu.

 

Hal itu belum lagi dengan acara sinetron (sinema elektronik) yang menjamur dan sering diputar di waktu-waktu prime time. Bukan masalah dengan program sinema elektronik tersebut tapi lagi-lagi lebih ke konten yang disajikan,

lebih banyak saat kita menonton pola pikir kita tidak dibuat berkembang dan bertambah luas,

tidak dibuatnya menjadi banyak belajar nilai-nilai hidup yang bisa diteladani,

tidak dibuat untuk otak kita dirangsang untuk berpikir kreatif dan cerdas dari konten-konten cerita yang dihadirkan.

Kebanyakan pola-pola ceritanya sama, alur mudah ditebak, tidak ada tema cerita yang variatif dan eksporatif, kecenderungan malah sering diajak berkhayal tentang :

si miskin yang teraniaya yang bertemu jodoh tampan dan kaya raya,

atau anak yang tertukar,

anak yang teraniaya ibu tiri,

cerita fiksi yang kontennya dangkal,

tema anak sekolah dan cinta remaja termasuk tentang bully didalamnya dan masih banyak lainnya.

 

Dan yang paling membikin ‘tepok jidat’ adalah acara gossip yang makin menjamur yang isinya banyak bumbu-bumbu dugaan/prasangka yang menambah seru kasus tersebut bila dibahas.

Lucunya kalau mendengar narator acara gossip yang dengan intonasi dibuat seperti menggiring penonton untuk menduga-duga bagaimana akhir cerita kasus selebriti dengan tambahan informasi-informasi yang bisa menjadi bumbu seru kasus tersebut yang kebenarannya belum pasti.

Lebih lucu lagi bila ada kasus-kasus umum tertentu diluar dunia hiburan yang sedang happening dibicarakan seperti bencana alam, politik, dsb. selalu menjadikan artis sebagai narasumber yang bila dilihat bahasan tersebut tidak pas dan relevan bila dibahas di acara gosiip tersebut.

 

Maka tidak heran kalau ternyata saat main ke rumah saudarapun, tontonan yang ada di rumah mereka lebih cenderung terisi oleh acara-acara dari saluran TV kabel yang konten acaranya lebih banyak pilihan yang menarik dan tentu tidak sedikit yang juga kreatif dan berbobot.

Kalau ditanya kenapa tidak menonton acara TV lokal, jawabannya simpel saja, “Abis gak ada acara yang bagus, mending nonton channel luar”.

source : annabrixthomsen.com
source : annabrixthomsen.com

Dalam hati aku mengiyakan, dan untuk aku yang belum punya pilihan lain selain nonton acara TV lokal, untungnya masih ada 2 TV swasta nasional baru yang konten acaranya berbobot dan kreatif.

Yah, lagi-lagi ini kembali masalah selera dan pilihan.

 

Kalau ada yang bilang, “kalau mau cari ilmu dan pelajaran gak disini, di TV, tapi lewat buku dan sekolah, TV itu buat hiburan”.

Maka aku akan bilang mereka terlalu sempit menerjemahkan tempat dan cara mencari ilmu dan pelajaran. Otak berhak mendapatkan asupan wawasan dan pengetahuan yang berbobot dimana saja dan kapan saja, tidak mengenal batas. Dan TV Cuma salah satu media yang bisa mengakomodasinya.

 

Ingat tidak kalau tipe-tipe karakter manusia itu ada yang mudah menagkap informasi-informasi secara pendengaran, visualisasi dan juga praktek langsung. Nah, lewat TV itu juga bisa mengakomodasi kebutuhan tipe orang yang mudah menangkap informasi lewat visualisasi, kurang lebih begitu.

 

 

“Karena lewat tontonan berperan dalam membentuk bagaimana karakter & pola pikir generasi bangsa ini  akan dibawa.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s