Renungan Kuliah Bermula dari Trade Remedies


Kamis kali itu seperti biasa aku masuk untuk mengikuti kuliah Perdagangan Internasional.
Dosenku mengawali kuliah kali itu dengan membuka materi lanjutan tentang Trade Remedies.
Apa itu Trade Remedies?
Kurang lebih seperti ini :

Trade Remedies : Instrumen yang bisa digunakan secara sah untuk melindungi industri dalam negeri dari kerugian akibat (unfair trade practicess), atau lonjakan impor dan juga perkembangan yang tidak terduga.

Bicara soal trade remedies maka ada kaitannya juga dengan proteksi yang diberikan pemerintah dalam kasus-kasus tertentu, dalam hal ini dosen kami membuka pembicaraan dengan contoh dumping. Ya, dumping memang cukup familiar kita dengar yang kurang lebih merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan tindakan usaha untuk menjual barang produksinya lebih murah di pasar luar negeri (diperuntukkan bagi pasar ekspor) ketimbang produk yang sama yang dijual untuk pasar dalam negerinya.

Fair-Trade
source : http://www.mediate.com.au

Praktik ini  bisa merupakan upaya yang tidak fair dalam menguasai pasar. Ini disebabkan karena hal tersebut bisa merugikan kompetitor pasar lainnya yang berada di negara ekspor karena bisa merusak harga pasar dan merupakan persaingan yang tidak sehat.
Kondisi dumping tersebut bisa menjadi tahap awal dalam menguasai pasar untuk pelan-pelan pada akhirnya kompetitor lain yang lemah tidak bisa mengimbangi harga produk yang jauh lebih murah dibanding produk mereka maka akan berguguran dalam pasar tersebut dan kondisi ini yang bisa dimanfaatkan dari pelaku dumping untuk memonopoli pasar tersebut.

Dan ilustrasi tersebut bisa menggambarkan kondisi Indonesia saat ini yang sudah berada di era perdagangan bebas, beberapa perjanjian kerjasama ekonomi yang Indonesia buat dengan negara-negara lain dalam hal ini untuk menghadapi perdagangan bebas seperti AFTA, CAFTA, IJEPA, dan lain sebagainya yang menuntut Indonesia untuk siap dan mau membuka diri dengan meminimalisasi hambatan-hambatan perdagangan yang ada.

Perdagangan bebas menuntut Indonesia untuk membuka diri terhadap arus masuk barang dan jasa dari negara-negara lainnya yang terikat kerjasama perdagangan bebas yang pada saat bersamaan Indonesia juga dituntut untuk mempersiapkan diri guna memanfaatkan ini sebagai peluang pasar yang baik bagi Indonesia. Hal tersebut akan menjadi baik apabila kondisi masing-masing negara seimbang, namun yang dapat dilihat bagi Indonesia tidak seperti itu.

Perdagangan bebas sudah berlaku, arus barang-barang luar negeri terus masuk, contoh mudahnya adalah membanjirnya produk-produk dari Cina ke Indonesia dengan harga yang sangat-sangat murah dibanding produk yang sama hasil produksi Indonesia yang harganya timpang menjadi cukup mahal. Bila dilihat lebih jauh, Cina juga telah melakukan praktik dumping. Jelas terlihat produk buatan Indonesia kalah saing dengan produk dari Cina dan ini bisa jadi ancaman bagi Industri dalam negeri.

Keterlibatan Indonesia dalam FTA (Free Trade Agreement) bisa menjadi celah yang harus dikendalikan, bagaimana tidak jika produkproduk dalam negeri masih belum dapat bersaing dalam segi harga dengan produk luar negeri yang harganya murah.

Salah satu dosen saya pernah bercerita, jangan melulu fokus membuat produk dengan harga murah. Karena pada dasarnya orang Indonesia juga akan lebih tertarik membeli produk dengan harga yang lebih mahal. Produk yang mahal sering diinterpretasikan dengan kualitas yang baik dan jaminan produk yang lebih terjaga.

Maka, otak saya tergelitik untuk berpikir :
satu sisi : produk yang berkualitas baik -> harga yang pantas/sesuai (tidak murah)
sisi lain : produk Cina yang kualitasnya tidak sepenuhnya baik namun unggul dengan harga yang murah, dan itu laku di pasar Indonesia sendiri.

Lalu dikaitkan lagi lagi dengan kondisi IKM di Indonesia yang jelas berskala kecil menengah, maka untuk menjual barang dengan harga tinggi juga tidak menjadi solusi jika bersaing dengan produk Cina yang berharga murah dan diminati orang Indonesia sendiri.
Di satu sisi, persepsi sebagian besar orang Indonesia yang perlu dibenahi, dimana anggapan bahwa produk luar negeri pasti berkualitas baik, dan produk Indonesia masih belum banyak diminati karena lagi-lagi persepsi kualitas yang dianggap rendah.

Lalu bagaimana? haruskah menjual lebih murah atau lebih mahal?

Simpul pemikiran mengarahkan,
mungkin begini, tidak semerta-merta karena produk kompetitor murah kita harus menurunkan lebih murah karena hal tersebut pasti terbentur ongkos produksi dan distribusi yang berat.
Maka mungkin baiknya kita pisahkan kategori produk sesuai segmennya.

Mungkin benar produk IKM tidak melulu harus murah, harus ada harga yang pantas untuk produk yang baik, maka produk-produk seperti kerajinan yang terlebih lewat proses handmade pantas dengan harga yang tinggi untuk kualitas dan menghargai proses menghasilkannya.

Dan untuk produk-produk seperti convenience goods seperti yang banyak dibutuhkan orang dan yang dijual oleh Cina saat ini, maka perlu dukungan lebih. orang akan cenderung mencari produk yang mudah didapat dengan harga yang lebih murah. Bukan tidak mungkin produk Indonesia bisa bersaing dalam segi harga dengan dukungan dari pemerintah untuk mengefisiensikan biasaya produksi dan distribusi juga pemasaran. Mungkin salah satu kunci Cina bisa membuat banyak produk massal dengan harga murah adalah karena mereka bisa memangkas ongkos produksi dari jalur distribusi yang kuat dan baik. Maka harga jual tidak akan ditekankan untuk menutup biaya tersebut. Maka lagi-lagi tantangannya adalah pembenahan infrastruktur di Indonesia. Negara kita adalah negara kepulauan yang daratannya terpisah-pisah oleh lautan dan bentang wilayah geografis yang luas dan tidak sama.

“Bila infrastruktur baik, maka seharusnya perekonomian akan lebih berkembang maju lebih dari sekarang.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s