Andil Guru Dalam Hidupku


 Pemikiran ini aku dapat ketika di perjalanan dalam angkot.

Melintas begitu saja, bukan karena hari itu baru peringatan hari guru.
Tentu tidak, hari itu hari biasa dan bukan hari guru.

Rasa terimakasih aku ucapkan dari dalam hati.
Untuk semua guru yang telah mengajar dan mendidikku hingga bisa mengenal dunia dengan lebih terbuka..

Source : Indonesia Mengajar Facebook Fanpage 

Berharganya ilmu, aku sadar jasa guru yang pertama mengenalkanku aksara untukku bisa membaca dan menulis, terimakasih ibu..

 

Walau mengitung bukan hal yang aku minati, dan aku punya pegangan lemah tentang ilmu pasti sejak awal aku belajar sedari kecil,
tapi itu bukan penampik aku berterimakasih kepada guru-guru  Matematika
yang mengajarkanku pentingnya ilmu pasti..

Terimakasih aku sampaikan untuk guru yang aku hormati, Pak Agus,
wali kelasku saat kelas 5 SD,
walau uban sudah jelas nampak menyembul di sisiran rambutmu yang rapih,
dan  tulang punggung yang sedikit bungkuk tidak bisa menampik
bahwa usiamu semakin senja,
Lewat penggaris kayumu dan disela kepul asap rokok yang tidak lepas darimu,
Kau mendidik kami keras dan disiplin hingga membuahkan hasil,
Aku yang selalu menoreh nilai raport fluktuatif dan rendah akhirnya bisa mencapai apa yang disebut peringkat kelas.

 

Untuk Bu Alariani yang aku hormati,
Terimakasih atas motivasimu yang tidak kenal henti menyemangati kami
hingga suasana kelas lebih bergairah untuk kompetisi lebih baik dalam pelajaran.

Aku baru mengenal bagaimana asyik dan serunya berlomba-lomba lebih baik
dalam  mengerti ilmu yang sudah engkau ajarkan.
Terimakasih telah melanjutkan semangatku untuk lebih baik dalam pelajaran
dan tidak aku sadari itu yang membawa peringkat kelas kembali kepadaku.

Padahal sebelumnya, belajar bagiku selalu datar dan tidak ada target apa-apa.
Aku belum pernah setertarik dan sesemangat itu dalam menuntut ilmu.
Walau peringkat kelas akhirnya adalah bonus tambahan bagiku,
namun aku tidak mengejar itu..

Untuk guru bahasa Inggris SMPku saat kelas 7, Bu Heli Mastura,
Terimakasih telah mengenalkanku akan asingnya bahasa Inggris
dengan cara yang humoris dan mengocok perut..

Dan guru bahasa Inggrisku saat kelas 8 SMP, Pak Asep Sutisna,
Terimakasih telah apik membawa kelas kami dengan baik ,
membuat kelas bahasa Inggris lebih seru dan aplikatif
lewat ajaranmu dan kuis-kuismu yang tak aku lupa..
Dan aku tahu bapak sangat kompeten dan sangat layak
diangkat menjadi abdi negara yang sah seperti lainnya saat itu.

 

Kepada Bu Min Ruminah, guru Seni Rupaku saat kelas 7 SMP,
terimakasih atas nilai-nilai disiplin yang kau tanamkan,
Dan aku masih mengamini prinsip yang kau ajarkan,
“Kita sebagai anak/murid sekolah, belum pantas menyombongkan  diri atas apa yang kita miliki, karena kalaupun kita kaya, kekayaan itu milik orang tua, dari orang tua, dan kita sederhananya masih menumpang hidup, jadi berlakulah dengan tetap rendah hati dan capailah suksesmu sendiri, bukan karena bayang-bayang orang tua”.

Kepada Pak Budi, guru Seni Rupaku saat kelas 9 SMP,
Terimakasih telah memberikan kesempatan seluas-luasnya
dalam kami mengekspresikan diri ke dalam karya seni kami,
lewat belajar langsung dengan alam.
Terimakasih atas kesabaran yang sangat bijak dalam mengajar kami.

Untuk Bu Tiwi, guru Kimiaku saat kelas 10 SMA,
Terimakasih atas penanaman nilai-nilai disiplin, hidup sederhana, dan kejujuran yang selalu engkau junjung dengan konsisten.
Walau kami tahu engkau dari keluarga berada, tapi kami selalu salut
akan penanaman nilai sederhana dan disiplin yang kau contohkan lewat anak-anakmu.

 

Kepada Pak Zul, guru Bahasa Indonesiaku saat kelas 11 & 12 SMA,
Aku selalu jatuh cinta dengan pelajaran Bahasa Indonesia,
mungkin salah satunya lewat  engkau.
Terimakasih memotivasi kami agar selalu berakhlak dan berbudi pekerti baik,
Untuk selalu memperbaiki kompetensi kami dengan  siswa sekolah unggulan lainnya.
Untuk semangat dan inspirasi nyentrikmu saat kuliah dan dunia kesusastraanmu.
Satu pesan yang kuingat saat kau bercerita
menasehati diri sendiri semasa kuliah di perantauan,
“Zul, sudah siapkah kamu mati malam ini,
kalau belum jangan kau tinggalkan shalatmu.”
Bagiku engkau salah satu sastrawan terbaik  yang pernah aku kenal.

 

Dan untuk guru geografiku saat kelas  11 & 12 SMA,
Walaupun kau terkenal disegani karena kerasnya engkau dalam mendidik,
Namun aku tidak pernah bosan memperhatikan pelajaranmu.
dan kata kenangan yang engkau berikan selalu aku ingat,
“Kita ini harus selalu ingat,
Siapa saya, Dimana saya, Mau kemana saya.”

Sederhana tapi sangat bermakna.

 

Source : http://www.oyegraphics.com

Untuk semua guru yang telah membagi ilmu
sehingga diriku terisi dengan ilmu-ilmu hidup yang selalu bermanfaat..
Terimakasih dari dalam hati untuk kalian para penyala ilmu,
Memberikan penerangan  dari pandanganku yang gelap sebelum mengenal ilmu.

– 2 Agustus 2013 –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s