Facing a Gift


Gift

Hari ini aku diingatkan lagi mengenai posisi diri sendiri.

Aku jadi teringat pesan dari guru Geografi SMA ku,

Begini kutipannya, kalian itu harus ingat :

“Siapa saya, dimana saya, mau kemana saya”

Simpel bukan, tapi sangat bermakna..

 

Merefleksikan kembali diriku sekarang ini,

Bukankah sekarang ini aku sangat beruntung?

Kesempatan pendidikan yang aku terima sangat istimewa.

Aku berdiri tegak menuntut ilmu merantau menyeberangi pulau kampung- halaman dengan ditopang iring-iringan uang rakyat negeri ini..

Istimewanya kesempatan ini, sungguh salah jika tidak bersyukur..

 

Ya aku sangat bersyukur sekaligus takut yang berlebih

Tidakkah ini terlalu berlebihan, harapan yang besar ditaruh di kedua pundakku..

Tapi aku juga sadar aku membutuhkannya,

Aku butuh ilmu, haus ilmu, tidak mau berhenti belajar hingga bangku SMA saja

 

Dengan membawa hati seperti itu pula aku berjalan merangkak mengembannya,

Sambil sekali waktu aku menyadari ada banyak orang diluar sana yang lebih pantas dari pada aku yang menerima ini..

Sambil sekali waktu aku merasa aku adalah pilihan yang salah & mengecewakan..

 

Jatuh-bangun, hilang motivasi-tersadar lagi, mengeluh-kembali sadar bersyukur..

Motivasiku bahwa semua masalah harus dipandang sebagai tantangan..

Bahwa ini proses panjang pembelajaran yang membentukku lebih dewasa..

 

Tahukah kamu, tanggung jawab besar seperti apa yang ada di pundakku?

Lewat uang rakyat yang menopang hidupku menuntut ilmu di ranah rantau

Tekanan, pandangan, tuntutan, ekspektasi, harapan untuk bisa menjadi “extraordinary & satisfied for them”

 

Disamping itu, tugas besar lainnya bukan hanya di balik tembok akademi ini,

Itu ada diluar sana, di laboratorium pendidikan terbesar bagiku..

Mereka adalah masyarakat.

 

Memperjuangkan perekonomian mereka,

Menggerakkan roda usaha mereka untuk menyambung nafas,

Memotivasi dan memfasilitasi mereka,

Menjembatani mereka dan pemerintah & birokrasi,

Menjadi inovator usaha bagi mereka,

Untuk kehidupan yang lebih layak dan lebih baik,

Utopis sekali, tapi inilah cita-cita visioner negaraku ini..

 

Dengan ini pula aku merasa tertekan dan ketakutan akan mengecewakan,

Dengan ini pula aku sadar bahwa ini cita-cita mulia..

Jelas sekali memberi harapan kehidupan lebih baik bagi mereka dengan cara yang mulia, tidak dengan mengabdikan diri dengan bekerja pada perusahaan

Ini lebih dari itu, mulianya wirausaha,

Itulah tujuan akhir mereka di jajaran atas sana..

Aku dididik menjadi tongkat estafet yang menjembatani program mereka dengan masyarakat di daerahku..

Dengan menjadi tenaga penyuluh bagi industri kecil menengah di daerahku yang tercinta..

 

Jika saja aku tidak ingat ini semua kembali dari Allah SWT,

Jika saja aku tidak ingat ini semua adalah skenario Allah untuk jalan hidupku,

Mungkin aku akan menjadi orang yang kufur nikmat,

Tapi aku tidak mau menjadi begitu,

Harapan masih ada, aku yakin masa depan cerah ada didepan sana setia menungguku meraihnya..

Aku yakin, ini semua tidak diberikan diluar kapasitasku.

 

Jadi, intisariku untuk malam ini adalah :

Tidak ada kesuksesan hakiki yang diraih tanpa pengorbanan,

Jalani dengan bijak dan dewasa,

Yakini  Allah SWT. menyertaiku sepanjang aku yakin & selalu ingat kepada-Nya.

“All is well”

14 Februari 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s