Sistem Gedung Parkir Susun Modern & Jalur Pedestrian yang Layak


Ini berawal dari sekilas liputan berita yang menyoroti sistem parkir di daerah Ibukota Jakarta. Judul liputan yang diusung adalah tarif parkir yang mahal di Jakarta. Aku memang tidak terlalu paham dan mengamati perkembangan kenaikan tarif parkir di Jakarta walaupun sekarang aku juga berdomisili disini karena memang tidak ada kendaraan yang perlu dan bisa aku bawa selain mengandalkan kedua kaki ini dan juga aku bangga memperkenalkan diri sebagai salah satu pencinta transportasi publik, hhe ^__^

Sekilas yang aku tahu parkir di daerah super macet seperti Jakarta agak ribet dan cukup memakan waktu, mulai dari mencari tempat parkirnya dan juga keluar masuk kendaraannya yang pasti padat dan penuh mengingat mobilitas warga kota metropolitan ini yang terus berjalan cepat..

Disamping itu perkembangan berita juga meliput adanya kenaikan tarif parkir dari kebijakan pemerintah yang mungkin salah satu tujuannya untuk menekan angka pertambahan kendaraan pribadi yang parkir di tempat-tempat umum dan tempat keramaian. Banyak juga tanggapan dari para pengguna yang diantaranya merasa keberatan dengan keputusan ini.

Aku mau berbagi cerita sekilas dari perjalananku dengan tranportasi busway Trans Jakarta yang transit di halte Dukuh Atas.

Disana ada fakta unik saat aku menunggu busway ke arah Ragunan, diseberang halte ada trotoar panjang dengan parkir kendaraan motor berjejer rapih dan tentu saja memenuhi seluruh badan trotoar yang notabene dibuat untuk pejalan kaki. Uniknya lagi, di tembok sepanjang trotoar itu tergantung persis spanduk yang bertuliskan kurang lebih begini, “Trotoar khusus pejalan kaki, bukan untuk parkir motor/kendaraan roda dua”.

Hmm, begitulah uniknya disini, sampai-sampai terbatasnya lahan parkir di Ibukota Jakarta sampai trotar pejalan kaki pun harus tergadaikan.

Menyambung dengan sekilas liputan berita yang aku ceritakan di awal, dalam berita dibahas bahwa menurut pengamatan bukan hanya Jakarta yang mengalami  penerapan kebijakan tarif parkir yang mahal. Disebutkan ada beberapa negara yang lebih dulu menerapkannya bahkan berkali-kali lipat lebih mahal.

Sebut saja untuk kota seperti London di Inggris punya kebijakan tarif parkir langganan berkisar kurang lebih Rp.4.000.000,-++/bulan yang aku lupa persisnya,hhe.

Bahkan kalau tidak salah ada negara yang menerapkan hingga Rp.6.000.000,-++/bulan yang saat dirupiahkan cukup mahal juga untuk menyisihkan uang dengan tarif parkir seperti itu.

Menurut kebijakan yang diambil oleh pemerintah dari negara-negara yang menerapkan tarif parkir yang mahal tidak lain tujuannya untuk menekan angka penggunaan kendaraan pribadi dan mendorong warganya untuk menggunakan transportasi publik yang ada.

Nah, apakah dengan hanya kebijakan tarif parkir yang super mahal di luar negeri saja yang bisa kita lihat, ternyata mereka juga tetap menawarkan solusi kemudahan bagi parkir kendaraan roda empat/mobil yang cukup memakan lahan parkir dan memakan waktu dalam proses parkirnya.

Negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, Denmark, Australia, Hongkong, Korea Selatan dan juga Jepang telah lebih dulu menawarkan sistem parkir yang lebih modern dengan adanya sistem gedung parkir susun yang membuat sistem parkir tidak berjejer terbentang namun lebih menjadi tersusun bertumpuk seperti rak. Sistem keluar masuknya melalui pencatatan nomor plat mobil dan proses parkirnya lebih banyak digerakkan oleh mesin-mesin pengatur dan penggerak naik turunnya mobil. Semuanya memudahkan proses masuk keluarnya mobil.

 169408_volkswagen-autostadt--menara-penyimpanan-mobil-vw-grup_663_382

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Dalam liputan tersebut disebutkan bahwa manajemen RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) di Jakarta juga telah menerapkan sistem gedung parkir susun seperti ini kurang lebih sejak tahun 2010  yang tentu saja berguna untuk mengefisiensikan waktu dan tempat.

Melihat liputan tadi bisa jadi salah satu solusi terbatasnya lahan parkir di Jakarta disamping solusi jangka panjang yang menurutku ya dengan ramai-ramai beralih menggunakan transportasi publik yang tentu lebih baik..

Karena efek dari meledaknya kendaraan pribadi di Jakarta ini khususnya sangat tidak enak bagiku dan bagi warga Jakarta pada umumnya. Jelas dengan makin banyak kendaraan pribadi yang menjamur, efek jangka panjangnya adalah polusi udara akut, mengganggu pernapasan, menimbulkan macet parah yang membuang sekian jam waktu hanya untuk di jalan, semua kegiatan/aktivitas apapun itu baik aktivitas ekonomi maupun aktitas rutin menjadi tidak cepat.

Efek kepanjangan dari membludaknya kendaraan pribadi di Ibukota Jakarta ini didukung oleh kebijakan pembangunan jalan raya yang lebih mengutamakan jalur kendaraan tanpa menyisakan sisa jalur trotoar yang layak untuk pejalan kaki bisa aku rasakan sendiri setiap berjalan di pinggir jalan di sudut Ibukota Jakarta menjadi  hal yang cukup menantang dan menyebalkan.

 20120207pedestrian

Mengapa? Menantang karena tidak adanya jalur trotoar yang jelas dan layak membuat aku harus berjalan dan bersaing dengan kendaraan yang lalu lalang di jalan, kemungkinan terserempet jelas ada. Menyebalkan karena sering kali aku juga yang harus mengalah demi keselamatan dengan berjalan menyerempet mendekati pinggir selokan jalan yang permukaannya kadang tidak rata dan bisa  becek tergenang air hujan kalau habis hujan turun.

tukang ojek di trotoar

My wish, disini aku berharap Jakarta yang indah dan cantik ini harus lebih baik lagi, bisa lepas dari belenggu macet. Bisa saja salah satu solusinya dengan sistem gedung parkir susun yang mengefisiensikan parkir kendaraan pribadi.

Disamping itu, aku harap kebijakan pemerintah bisa kembali untuk kemaslahatan rakyat dengan secara bertahap memperbaiki sistem transportasi publik terintegrasi yang aman, nyaman dan terjangkau semua kalangan. Aku yakin dengan begitu, banyak masyarakat yang mau beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.

Bukan tidak mungkin, Jakarta bisa memiliki pemandangan seperti di kota-kota besar di luar negeri seperti di Kopenhagen, Denmark yang warganya lebih memilih menggunakan transportasi publik dan sepeda yang keuntungannya adalah selain tidak membuat macet juga mendapat predikat sebagai kota yang ramah lingkungan, indah bukan? ^__^

Dan satu lagi, jangan hilangkan hak pejalan kaki dengan tetap menyediakan jalur pedestrian yang layak dan aman untuk pejalan kaki, bukan hanya dibuat lebar dan rapih untuk beberapa titik jalan di pusat kota saja, oke?

pedestrian-project-yvette-helin3

That’s all my opinion about parking system, public transportation, & proper pavement footway in Jakarta..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s